Blog Archives

Drama Bloody Mary

Drama Bloody Mary

Author : Moeila

Casts :

1. Bloody Mary

2. Aprilliani

3. Faradhila

4. Farid

5. Meila

*

BLOODY MARY

Ketika suhu udara cukup terik untuk mengeluarkan peluh dari pori-pori, bahkan setelah pulang sekolah pun mereka belum terbebas dari jeratan tugas. Aprilliani, Faradhila, Farid, Meila, memutuskan untuk mengerjakan tugas kelompoknya di rumah Faradhila.

Lia         : “Pengaruh intensitas cahaya pada tumbuhan kacang hijau” (ngetik judul makalah di laptop). Nah, mana laporan kalian? Kemarikan, biar lia ketik.

Dhila     : ini dari penelitian di tempat gelap

Farid     : ini yang di tempat terang

Meila     : punyaku dari tempat yang remang-remang.

Lia         : sip! (mengumpulkan bahan)

 

Sementara lia mengetik tugas mereka, yang lain sibuk dengan urusannya masing-masing. Hening, hingga dhila mulai merasa jenuh.

Dhila     : bosan, ah. Ngga ada kerjaan lain ya kita?

Lia         : aku banyak

Farid     : aku ambil minum dulu

Meila     : gimana kalo kita main?

Dhila     : main apa? Engklek? Guli? Petak umpet?

Meila     : ya enggaklah! Maenannya yang agak menantang dikit

Lia         : mau main ‘gantian ngetik per paragraf’?

Farid     : (datang bawa 4 gelas minuman) itu tugas sekretaris.

Meila     : kita main ‘truth or dare’!

Dhila     : hah?

Farid     : pilih jujur atau ditantang. Seru tuh!

Lia         : aku gak ikut. Sekretaris tugasnya banyak

Meila     : kan bisa dikerjain nanti. Main dulu sekarang. Gak jenuh apa ngetik terus?

Dhila     : (ngambil laptop dari pangkuan lia dan meletakkannya di sebelahnya) ayok main!

Lia         : eh sinikan laptopnya!

Farid     : udah tuh, lia. Nanti lanjut lagi. Ayok hompimpa! (semua ambil posisi)

Dhila, Meila, Farid     : hompimpa alaiyum gambreng! (semua telapak tangan menghadap ke atas) yang autis pake baju rombeng! (telapak tangan dhila, Meila, farid tetap menengadah, sedangkan lia menghadap ke bawah)

Kecuali lia                   : yeeeeaayy…..

Lia         : yaah….

Farid     : pilih truth atau dare?

Dhila     : truth aja..

Lia         : aku lebih suka tantangan

Meila     : pilihan yang bagus! Haha. Aku tantang lia untuk main Bloody Mary!

Lia         : apa itu?

Dhila   : (membuka bindernya) literatur mengatakan bahwa “Bloody mary adalah legenda amerika, yaitu seorang wanita, Mary Whirnington, yang dikabarkan meninggal di depan cermin. Beberapa juga mengatakan kalau ia meninggal dibunuh dengan kejam oleh kekasihnya atau teman kencannya. Beberapa menganggapnya seorang penyihir. Arwah mary, terperangkap di dalam cermin sehingga ia tidak bisa keluar kecuali ada seseorang yang membuka jalannya. dan karena terlalu lama terperangkap di dalam cermin, jiwanya menjadi marah, hampa dan bisa melakukan hal-hal diluar batas kemanusiaan. Bloody Mary dapat dipanggil dengan cara mengatakan Bloody Mary tiga kali di depan cermin kamar mandi dengan lampu yang mati, dan kemudian bloody mary akan muncul. Mary akan mengambil mata orang yang memanggilnya. Anak-anak di seluruh penjuru Amerika sering memainkannya dan kena atau tidaknya masih misteri.”

Farid     : keren!

Meila     : takut, lia? Hahaha

Lia         : nggak. Aku gak takut apapun. kamar mandi itu kamar keduaku. (melangkah duluan menuju kamar mandi)

Lia bisa berkata seperti itu, karna dia memang sering berlama-lama di kamar mandi. Bahkan diantara mereka berempat dialah yang paling lama mendekam di sana. Tapi dia melupakan sesuatu, dia sedang tidak berada di rumahnya sendiri.

Dhila memberikannya sebuah lilin kecil, hanya seberkas cahaya yang membantunya mengenali benda disekitarnya tanpa membenturkan anggota tubuhnya lebih dulu.

Farid   : baca doa lia. A’udzubillahiminasyaitonirojim……….. (ekspresi khidmat sambil menengadah tangan)

Dhila   : semangat lia. Kalau ada yang mencurigakan, silahkan melambaikan tangan ke kamera

Meila   : emangnya kita lagi syuting Dunia Lain!

Lia       : gak perlu lebay gitu. Aku bukan penakut yang percaya sama takhayul gak jelas. Tiga menit, aku keluar.

Walaupun mengaku tidak takut, tetap saja jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Sambil menarik napas dalam, Lia memutar knop pintu kamar mandi. Lampu dipadamkan setelah lia mengambil posisi di dalam. Mereka tidak mengunci pintunya karna memang tidak perlu.

Lia mengangkat lilinnya mencari dimana letak cermin. Setelah berjalan beberapa langkah ke kanan, ia menangkap bayangannya sendiri di dalam cermin. Rambut di lengannya berdiri melihat wajahnya yang seperti melayang tanpa tubuh dengan hanya seberkas cahaya lilin meneranginya.

Lia       : (menarik napas) Bloody Mary.. (hening) Bloody Mary.. Bloody Mary!

Tidak ada yang terjadi. Tetap hening. Sambil masih menghadap cermin, Lia menggumam,

Lia       : nah, kan. Bloody mary Cuma mitos picisan.

Lia kemudian membalikkan tubuhnya, berniat untuk segera keluar dari tempat yang tiba-tiba terasa dingin mencekam itu. Tapi sesuatu di balik punggungnya membuat bulu kuduknya berdiri tegak.

Lia       : (membalikkan tubuhnya) AAAAAAH!!! (histeris)

Bloody Mary menampakan wujudnya di cermin sebelum benar-benar keluar dari sana. Wajahnya pucat dengan tetesan darah di bawah matanya dan rambutnya yang sebagian menutupi wajahnya. Matanya menatap tajam ke mata Lia, merasa tidak senang karna di ganggu.

Mary    : DON’T YOU DARE TO CALL ME, SILLY GIRL! (menampar lia)

Lia       : (tersungkur. Sudut bibir kiri berdarah. Kemudian berusaha menjauh)

Mary    : (mendekat ke arah lia, merenggut kerah bajunya dan menariknya berdiri.)

Lia       : (merasa sangat ketakutan, dan tetap berteriak meminta tolong.)

Mary    : SHUT UP! (menarik rambut lia hingga wajahnya mendongak, lalu dengan tanpa hati meraup bola mata lia satu per satu, hingga hanya meninggalkan selongsong mata yang kosong dan berlumuran darah.)

Bloody Mary tertawa kecil yang lebih terdengar seperti sambaran petir yang menyayat telinga orang yang mendengarnya, lalu pergi.

Lia bisa merasakan darah mengalir di pipinya dan seluruh wajahnya. Ia tak sanggup lagi untuk berteriak dan mulai tak sadarkan diri.

Sementara itu di ruang tengah,

Dhila   : skak mat! Hahaha! (tertawa puas)

Farid   : yaahh…… (tak terima atas kekalahannya dalam permainan catur)

Meila   : (gelisah, muka masam)

Dhila   : kau harus belajar lebih rajin lagi Farid untuk mengalahkanku, hahahah!

Farid   : aku sengaja mengalah sama perempuan. Aku tadi gak serius mainnya

Dhila   : alasan. Aku juga gak serius mainnya, tapi bisa mengalahkanmu sampe 3x berturut-turut! Hahaha! (mengalihkan pandangan ke Meila) kenapa mei? Tumben diem aja

Meila   : ini udah berapa menit ya? Kenapa lia belum keluar?

Farid   : oh iya! Tugas nya kan masih banyak.

Dhila   : lia kan emang suka lama-lama di kamar mandi, Mei.

Meila   : iya sih. tapi kok.. em, aku cek ke kamar mandi dulu ya.

Farid   : aku ikut

Dhila   : aku nerusin ketikan makalah kita aja ya

Mereka berdua kemudian menuju kamar mandi. Meila tak bisa menyembunyikan rasa khawatir yang tergambar melalui mimik wajahnya. Sedangkan Farid, ia tiba-tiba teringat tentang literatur yang dibaca Dhila  dari bindernya tentang pembunuhan sadis yang dilakukan Bloody Mary terhadap korbannya. Tapi ia segera menepis pikiran itu dan meyakinkan dirinya sendiri kalau Lia baik-baik saja.

Farid   : mei, ini bau.. darah ya?

Meila   : agak amis, sih. (berusaha tetap tenang, walau jantungnya berdetak semakin cepat)

Farid merasakan dingin di kulitnya ketika memutar kenop pintu kamar mandi. Dan ketika ia membuka pintunya, bau amis terasa makin tajam menusuk hidung mereka. Darah mereka membeku. Farid membuka pintu lebih lebar dan mendapati tubuh Lia tergeletak di lantai dengan wajah yang berlumuran darah dan kelopak mata yang cekung ke dalam menandakan isinya yang kosong.

Farid   : astaghfirullah… (menutup hidungnya)

Meila   : (tubuhnya membeku, wajah pucat pasi, terdiam, matanya berair.)

Dhila   : (datang) hei, aku pikir nyium bau… (melihat ke dalam kamar mandi) AAAAHH!!! (histeris)

Farid mendekati tubuh Lia yang terbaring berlumuran darah di lantai kamar mandi, mengecek denyut nadinya, lalu menunduk, titik-titik air mata jatuh membasahi lantai.

Lia sudah meninggal.

Dhila yang histeris setelah melihat keadaan Lia, semakin histeris lagi setelah melihat tulisan di cermin yang terlihat seperti ditulis menggunakan tinta darah:

WAY TO THE DEATH HAS BEEN OPENED

BE AWARE

Keesokan paginya, jenazah Lia dimakamkan. Ketika semua pelayat sudah pulang, Farid, Dhila, dan Meila masih tinggal disana. Mereka masih tidak bisa percaya kalau Bloody Mary memang benar-benar ada, dan parahnya merenggut nyawa teman mereka sendiri, akibat ulah mereka sendiri.

Dhila   : mei, ayo kita pulang. Kamu belum makan ‘kan dari tadi?

Meila   : aku gak mau pulang, Dhil. Aku mau nemenin Lia aja. Pasti dia kesepian disana

Dhila   : ada malaikat yang menjaganya. Tuhan juga pasti udah memberinya satu tempat di surga.

Meila   : aku beneran gak tau kalo Bloody Mary itu memang benar-benar ada. Sumpah aku gak tau. Lia, maafin aku.. (menangis)

Dhila   :  udahlah mei, gak seorangpun bisa meyangkal datangnya takdir

Farid   : takdir bisa diubah, tergantung usaha kita. Dan kalo waktu itu tidak ada yang mengusulkan tantangan bodoh semacam itu, Lia mungkin masih bersama kita sekarang. (dengan nada sarkasik)

Dhila   : kau bicara apa Farid! Takdir itu diketahui setelah terjadi. Dan ini bukan sesuatu yang disengaja.

Meila   : Farid benar. Aku harusnya berpikir sebelum bertindak

Farid   : ya. dan harusnya kau berpikir sebelum pernah menemuiku. (lalu pergi)

Meila   : (air mata semakin membanjiri pipinya)

Dhila   : farid!

Farid   : (tidak mendengarkan panggilan Dhila, dan malah semakin jauh)

Dhila   : mei jangan diambil hati ya. farid mungkin masih syok. Kita semua syok. Tapi kamu tau kan kenapa farid bersikap begitu?

Meila   : (mengangguk)

Farid pulang ke rumahnya. Ia seolah merasakan dirinya ikut dikubur bersama dengan Lia. Dadanya terasa sesak dan pikirannya kalut. Bagaimanapun, ia lebih ingin berada di rumah daripada menyaksikan proses pemakaman sahabatnya, teman spesialnya. Begitu spesial sehingga ia merasa sangat marah kepada Meila, yang dianggapnya akar dari masalah ini. Farid duduk di balik meja komputernya, masih memikirkan kepergian Lia yang sangat tidak diduga, ketika ia melihat pantulan cermin di layar komputernya. Amarahnya meledak, mengingat cermin adalah penyebab terkonyol dari kematian sahabatnya. Farid kemudian berjalan menuju cermin tersebut, merenggutnya lalu membantingnya ke lantai. Cermin itupun hancur berantakan. Farid kembali menuju mejanya, dan air matanya kembali menetes. Tiba-tiba kamarnya terasa dingin mencekam. Bloody Mary muncul dari serpihan kaca yang berantakan. Farid merasakan sesuatu dibalik punggungnya. Ia berbalik untuk memeriksanya. Seketika itu pula Bloody Mary mengayunkan tangannya. Satu sayatan menganga di leher Farid, menumpahkan darah yang terus mengalir deras. Faridpun terhempas jatuh, tak sadarkan diri untuk selamanya.

Dhila kembali ke rumahnya. Setelah mencuci muka, tangan dan kakinya, Dhila memutuskan untuk belajar di kamarnya. Diantara mereka berempat, Dhila memang terkenal sebagai yang paling kutu buku. Walaupun demikian, ia tetap tidak bisa berkonsenrasi penuh terhadap apa yang sedang dibacanya. Setiap buku yang dibacanya seolah memutarkan kembali kejadian di kamar mandi tersebut dan juga proses pemakaman Lia. Ia lantas menutup bukunya. Dan disaat yang bersamaan, lampu di kamarnya berkedip-kedip beberapa kali, lalu mati. Tiba-tiba sebuah lilin menyala dalam kegelapan. Bersamaan dengan itu, wajah Bloody Mary kembali muncul. Mary menjatuhkan lilin tersebut, apinya kemudian menyambar kertas-kertas dan buku yang ada di atas meja belajar Dhila. Api merambat dengan cepat dan menutup jalan keluar satu-satunya yang dimiliki Dhila. Dhila terjebak bersama kobaran api yang semakin besar dan terbakar di dalam kamarnya sendiri.

Setelah melalui perdebatan kecil lainnya, Dhila akhirnya berhasil membujuk Meila untuk pulang. Matanya yang sembab mengantarnya sampai rumah. Ia meringkuk di atas tempat tidurnya, masih sesenggukan, dan kejadian tragis itu yang terus berputar-putar di kepalanya. Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari dalam kamar mandi yang ada di kamarnya. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan ketukan tersebut, tapi karna ketukan tersebut tak kunjung berhenti, ia terpaksa menaruh perhatian terhadapnya. Rasa penasaran menuntunnya menuju kamar mandi tersebut. Tangannya bergetar memegang kenop pintu kamar mandi dan memutarnya membuka. Kosong. Tak ada yang mencurigakan di dalam sana, kecuali suara ketukan itu yang entah berasal dari mana. Pikirannya mulai dipenuhi hal-hal ganjil yang membuatnya semakin paranoid. Ketika ia berniat untuk kembali ke tempat tidurnya, sesuatu menariknya masuk ke dalam kamar mandi tersebut, dan satu nyawa lagi direnggut oleh Bloody Mary.